Bisnis.com, JAKARTA — Indeks harga saham gabungan (IHSG) berpotensi bergerak konsolidatif pada di tengah tekanan nilai tukar rupiah, rilis kinerja emiten kuartal III/2026, serta penantian keputusan suku bunga The Federal Reserve (The Fed). Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda mengatakan IHSG ditutup melemah 1,22% ke level 5.373,09 pada Senin (26/10/2026). Pelemahan terjadi setelah indeks menguat tajam pada pekan sebelumnya dan sempat kembali menguji level psikologis 5.400. "Tekanan pasar juga berasal dari rupiah yang bergerak di kisaran Rp18.100 per dolar AS. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasar keuangan domestik dan berpotensi membatasi minat investor terhadap aset berisiko," paparnya dalam publikasi riset, Selasa (27/10/2026). Memasuki pekan ini, Reza menyoroti tiga katalis yang berpotensi memengaruhi pergerakan IHSG, yakni publikasi laporan keuangan kuartal III/2026, penerapan kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC), serta keputusan suku bunga The Fed pada 29 Oktober. Dari sisi domestik, laporan keuangan kuartal III/2026 berpotensi memicu pergerakan sektoral dan mendorong investor menyeleksi saham berdasarkan kinerja fundamental masing-masing emiten. Sementara itu, kebijakan BEI yang mengecualikan saham HSC dari perhitungan IHSG mulai 2 November menjadi perhatian pelaku pasar. Kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya peningkatan kualitas dan transparansi indeks di tengah konsultasi MSCI terkait status pasar modal Indonesia. Dari eksternal, pasar akan mencermati keputusan The Fed pada 29 Oktober. Berdasarkan kalender ekonomi yang dipantau, konsensus memperkirakan bank sentral Amerika Serikat tersebut mempertahankan suku bunga di kisaran 3,75%–4,00%. Secara teknikal, Reza menilai IHSG belum mampu menembus level resistansi terdekat di 5.455. Indeks berpotensi bergerak konsolidatif dengan peluang technical rebound selama mampu bertahan di area support 5.326–5.246. Meski demikian, tren IHSG masih bearish karena indeks berada di bawah rata-rata pergerakan 20 hari (moving average/MA20) di 5.774 dan MA200 di 6.933. Indikator moving average convergence divergence (MACD) juga masih negatif, dengan garis MACD berada di bawah garis sinyal. Apabila area support dapat dipertahankan, IHSG berpeluang mengalami rebound untuk kembali menguji resistansi di kisaran 5.455–5.545.
Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Hari Ini, Selasa 27 Oktober 2026
Diperbarui:

Analisis Dampak Berita
Masuk untuk meminta analisis dampak berita ini.
MasukKomentar (0)
Masuk untuk memberikan komentar.
Baca juga

Jaringan Listrik Regional Mendesak Direalisasikan untuk Jaga Ketahanan Energi ASEAN
Kompas
schedule3 menit yang lalu · 10.12 WIBvisibility0menu_book1 mnt
ASEAN Power Grid dan kerja sama regional dinilai penting untuk memperkuat ketahanan energi serta mempercepat transisi energi bersih. Rencana yang disebut mencakup interkoneksi listrik dan harmonisasi aturan perdagangan lintas batas.
Sumber Berita: Kompas
Newsroom · 27 Okt 2026, 10.12 WIB

Wall Street Menguat, Saham Cip Melonjak Usai Anthropic AI Umumkan Rencana IPO
Kompas
schedule3 menit yang lalu · 10.12 WIBvisibility0menu_book1 mnt
Bursa saham AS menguat pada Senin (26/10), didorong reli saham semikonduktor setelah Anthropic mengajukan dokumen IPO. Saham Nvidia, Micron, Broadcom, dan AMD turut naik.
Sumber Berita: Kompas
Newsroom · 27 Okt 2026, 10.12 WIB

IHSG Diprediksi Menguat, Ritel Bisa Cermati 6 Saham Pilihan Analis
Kompas
schedule3 menit yang lalu · 10.12 WIBvisibility0menu_book1 mnt
IHSG diprediksi menguat pada perdagangan 27 Oktober 2026 setelah terkoreksi 1,22 persen pada penutupan awal pekan. Analis menyoroti sinyal teknikal, kebijakan suku bunga AS, laporan keuangan perusahaan teknologi, dan ketidakpastian status Indonesia di indeks MSCI.
Sumber Berita: Kompas
Newsroom · 27 Okt 2026, 10.12 WIB
