Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) Indonesia memprioritaskan pengembangan industri semikonduktor dan material maju untuk meningkatkan nilai tambah industri nasional. Chief Technology Officer (CTO) Danantara Indonesia Sigit Puji Santosa mengatakan, pengembangan industri tersebut menjadi bagian dari portofolio lebih dari 40 proyek strategis yang disiapkan untuk lima tahun ke depan. Sigit menyebut pengembangan industri nasional perlu melampaui kegiatan ekstraksi sumber daya alam dan perakitan produk, menuju penguasaan teknologi, desain, penelitian, dan pengembangan, hingga kemampuan memproduksi komponen industri. “Dari sejumlah sektor tersebut, mineral, material maju, dan semikonduktor sebagai prioritas pengembangan karena memiliki potensi memberikan dampak ekonomi yang besar,” kata Sigit dalam acara Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) di Jakarta, Senin (26/10/2026). Dalam pengembangan sektor mineral, Danantara mengarahkan investasi tidak hanya pada kegiatan ekstraksi, tetapi juga pengolahan menjadi komponen, subsistem, hingga produk akhir yang memiliki nilai tambah lebih tinggi. Sementara itu, pengembangan industri semikonduktor di Indonesia mencakup enam bidang, salah satunya cip pengendali dan cip untuk pusat data. Upaya ini kata Sigit diarahkan untuk memperkuat kemampuan industri dalam negeri memproduksi perangkat teknologi, bukan hanya menyediakan infrastrukturnya. Danantara juga menyiapkan proyek material maju yang mencakup pengolahan unsur tanah jarang, tembaga, aluminium, baja tahan karat, serta pengembangan produk logam bernilai tambah untuk kebutuhan industri manufaktur. Untuk mendukung pengembangan proyek tersebut, Danantara akan mengutamakan penguatan industri yang sudah ada, termasuk badan usaha milik negara (BUMN). Jika kemampuan industri dalam negeri belum mencukupi, Danantara membuka peluang kerja sama dengan perusahaan lain. “Dan kalau pun memang tidak ada yang existing, maka Danantara juga siap membangun industri baru bersama mitra-mitra strategis kita,” ujar Sigit. Secara keseluruhan, Danantara menargetkan investasi proyek industri strategis mencapai 20 miliar dollar AS hingga 30 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 362,6 triliun - Rp 544 triliun (Kurs Rp 18.100 per dollar AS dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Portofolio proyek Danantara juga mencakup lima klaster industri utama, yakni energi; pangan dan teknologi kesehatan; infrastruktur, mobilitas, dan telekomunikasi; pertahanan, maritim, dan dirgantara; serta material maju. Klaster lainnya meliputi industri elektronika, permesinan, teknologi finansial, dan semikonduktor. Selain itu, Danantara menyiapkan pengembangan industri bahan baku farmasi, vaksin, obat-obatan biologis, biosimilar, dan peralatan medis. Pada sektor energi, proyek yang disiapkan meliputi pengembangan tenaga surya berkapasitas 100 gigawatt (GW), pengolahan batu bara menjadi dimetil eter (DME), pembangkit listrik tenaga nuklir, kilang minyak, dan penguatan rantai nilai baterai kendaraan listrik.