Nilai tukar rupiah menguat pada penutupan perdagangan Rabu (30/9/2026), naik 87 poin atau 0,48 persen menjadi Rp17.894 per dolar AS. Angka itu merupakan kurs penutupan perdagangan, bukan JISDOR Bank Indonesia. Sebagai pembanding, halaman JISDOR BI yang dirujuk dalam penelusuran mencatat Rp17.998 pada 29 September 2026. Pergerakan rupiah berlangsung saat sejumlah mata uang Asia menguat terhadap dolar AS. Yuan China, ringgit Malaysia, dolar Singapura, yen Jepang, dan dolar Hong Kong tercatat naik. Namun, peso Filipina serta won Korea Selatan bergerak melemah. Mata uang negara maju juga bervariasi, dengan euro, poundsterling, dolar Kanada, dan franc Swiss menguat, sementara dolar Australia melemah. Rincian persentase mata uang tersebut bersumber dari laporan pasar dan belum seluruhnya terverifikasi melalui sumber primer independen. Analis Doo Financial Futures Lukman Leong, sebagaimana dikutip CNN Indonesia, menilai penguatan rupiah ditopang intervensi Bank Indonesia yang memanfaatkan pelemahan dolar AS serta penurunan harga minyak mentah dunia. Ia juga menyebut indeks dolar AS terkoreksi setelah data pekerjaan Amerika Serikat lebih lemah dan adanya pernyataan dovish dari John Williams, Presiden Federal Reserve Bank of New York. Penjelasan tersebut merupakan atribusi analis, bukan konfirmasi langsung dari Bank Indonesia atau Federal Reserve. Sumber: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260930154035-78-1410057/rupiah-bangkit-ke-level-rp17894-per-dolar-as-rabu-sore dan https://www.bi.go.id/id/statistik/informasi-kurs/jisdor/default.aspx