Bisnis.com, JAKARTA – Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup melemah pada Kamis (15/10/2026). Sejumlah saham seperti DEWA, HRTA, hingga WIFI turut menekan kinerja indeks komposit. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup melemah 1,33% ke level 5.863,78 pada Kamis (15/10/2026). Sepanjang hari, indeks bergerak pada level 5.917,70—5.804,21. Saham PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) turun 7,88% ke Rp304, PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA) turun 6,40% ke Rp1.900, dan PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI) turun 5,84% ke Rp1.290. Begitu juga dengan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) yang turun 5,26% ke Rp630, PT Indika Energy Tbk. (INDY) turun 5,10% ke Rp2.420, dan PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) turun 4,85% ke Rp157. Sebaliknya, penguatan harga saham oleh PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) yang naik 1,39% ke Rp4.390, PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) naik 1,28% ke Rp790, dan PT United Tractors Tbk. (UNTR) naik 1,00% ke Rp25.250. PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. (PGAS) turut naik 0,772% ke Rp1.400, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) naik 0,51% ke Rp3.980, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) naik 0,32% ke Rp3.100. Analis BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya mengatakan sejumlah sentimen dari global turut membayangi pergerakan IHSG kemarin. Beberapa di antaranya adalah inflasi AS yang di atas ekspektasi hingga eskalasi konflik di kawasan negara Arab. Melansir The Guardian, Rabu (14/10/2026), laporan Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) mencatat indeks harga konsumen atau consumer price index (CPI) September meningkat 3,7% year on year (YoY) dari 3,4% pada Agustus 2026, melampaui ekspektasi pasar yang memperkirakan inflasi mencapai 3,6%. Kenaikan tersebut menjadi yang tertinggi sejak inflasi mencapai puncak tiga tahun sebesar 4,2% pada Mei 2026. ”Penguatan dolar AS berpotensi menekan rupiah dan meningkatkan risiko arus keluar dana asing dari pasar negara berkembang,” tegas para analis dalam riset hariannya, Kamis (15/10/2026). Tidak hanya itu, analis BRI Danareksa Sekuritas juga menyoroti eskalasi konflik geopolitik, dengan ancaman Houthi terhadap fasilitas minyak Arab Saudi dinilai meningkatkan risiko gangguan pasokan energi dan volatilitas harga minyak, memperbesar ketidakpastian global. Analis turut menyoroti data perdagangan China yang menguat, dengan surplus dagang pada September mencapai US$133,53 miliar, ekspor tumbuh 36,3% dan impor 31% YoY. Peningkatan impor dinilai berpotensi menopang permintaan komoditas RI, kendati dampaknya terhadap IHSG tertahan oleh sentimen global yang negatif. ”Inflasi produsen AS September dijawalkan rilis kemarin. Setelah PPI Agustus naik 5,4% YoY, angka terbaru akan dicermati untuk menilai tekanan biaya dan implikasinya terhadap kebijakan The Fed,” tegasnya. Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.