Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, mengingatkan pemerintah dan otoritas keuangan untuk bergerak cepat merespons tekanan di pasar keuangan domestik. Langkah tegas dan responsif dinilai sangat penting untuk mencegah arus keluar modal asing (capital outflow) yang berlarut-larut serta berpotensi menggerus cadangan devisa nasional. Pernyataan tersebut disampaikan Faisal menanggapi gejolak pasar keuangan yang memicu pelemahan nilai tukar rupiah serta penurunan drastis Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt) pada sesi perdagangan Jumat (16/10/2026). Dalam tekanan tersebut, IHSG sempat merosot tajam hingga menyentuh level 5.193. “Harapannya ini adalah gejolak pasar yang bersifat kontemporer. Harapannya ya tidak terus-menerus, hingga ini tidak terus menggerus cadangan devisa,” ujar Faisal kepada Investor.id, Jumat. Menurut Faisal, kunci utama untuk meredam tekanan terhadap cadangan devisa adalah dengan menjaga kepercayaan investor global terhadap stabilitas pasar keuangan domestik. Ia menekankan, pemerintah bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) perlu segera berkonsolidasi guna menindaklanjuti berbagai catatan serta masukan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI), khususnya mengenai perbaikan tata kelola (governance) dan transparansi di pasar modal. Faisal menilai daya tahan cadangan devisa Indonesia saat ini masih tergolong sangat kuat sebagai bantalan perekonomian makro. Berdasarkan data Bank Indonesia, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2026 tercatat sebesar US$ 146,3 miliar, sedikit bergeser dari posisi US$ 146,5 miliar pada bulan sebelumnya. Angka cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor, mendekati enam bulan dan jauh di atas standar kecukupan internasional sebesar tiga bulan impor. “Cadangan devisa walaupun sudah turun lagi sekarang US$ 146,3 miliar, tapi sebetulnya masih bisa membiayai hampir enam bulan impor,” tambahnya. Meski tingkat kecukupan devisa memadai, Faisal menegaskan pemerintah tidak boleh menganggap remeh gejolak pasar. Lambatnya penanganan sentimen negatif dikhawatirkan dapat memicu efek bola salju yang merusak iklim investasi secara berkelanjutan. Ia menyimpulkan kombinasi cadangan devisa yang mencukupi dan respons kebijakan yang presisi merupakan modal utama Indonesia untuk melewati dinamika pasar. Perbaikan tata kelola pasar modal secara transparan menjadi kunci agar potensi arus modal keluar dapat diredam sebelum mengganggu stabilitas perekonomian. Tekanan pasar saham dan valuta asing Indonesia pada pertengahan Oktober 2026 dipengaruhi ketidakpastian makroekonomi global serta evaluasi MSCI. Rencana evaluasi dan konsultasi publik terkait klasifikasi status pasar modal Indonesia menciptakan sentimen risk-off di kalangan investor institusi asing. Aksi lepas saham investor global memicu penurunan IHSG hingga menyentuh batas trading halt. Pada saat yang sama, permintaan dolar AS meningkat akibat pengalihan dana ke aset yang dinilai lebih aman. Cadangan devisa berperan sebagai instrumen stabilitas bagi Bank Indonesia untuk melakukan intervensi pasar guna menahan depresiasi rupiah; intervensi moneter, bagaimanapun, hanya penahan sementara. Pembenahan struktur pasar modal, peningkatan transparansi free float, serta penegakan hukum yang konsisten disebut sebagai solusi jangka panjang untuk memulihkan kepercayaan investor internasional.
Cadangan Devisa RI Cukup untuk 6 Bulan, CORE Wanti-wanti Arus Modal Keluar
CORE Indonesia mengingatkan pemerintah dan otoritas keuangan agar merespons gejolak pasar dengan cepat untuk mencegah arus keluar modal berkepanjangan. Cadangan devisa tercatat US$ 146,3 miliar pada akhir September 2026, setara 5,3 bulan impor atau mendekati enam bulan.
Diperbarui:

Analisis Dampak Berita
Masuk untuk meminta analisis dampak berita ini.
MasukKomentar (0)
Masuk untuk memberikan komentar.
Baca juga
0Achmad Baiquni Jadi Direktur I KFC Indonesia, Ini Susunan Direksi FAST
PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST), pengelola KFC Indonesia, menunjuk mantan Direktur Utama BNI Achmad Baiquni sebagai Direktur I untuk periode 2026–2030. Pengangkatan itu disetujui dalam RUPSLB pada 14 Oktober 2026.
Sumber Berita: Kompas
Newsroom · 17 Okt 2026, 20.46 WIB
0Saham BBCA Anjlok 14,81 Persen, Ini Respons Manajemen BCA
Saham BBCA turun 14,81 persen ke Rp 5.175 pada penutupan perdagangan 16 Oktober 2026, di tengah gejolak pasar modal terkait usulan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI. BCA menyatakan tetap mencermati dinamika pasar dan berfokus pada fundamental serta tata kelola perusahaan.
Sumber Berita: Kompas
Newsroom · 17 Okt 2026, 20.46 WIB
0Bank Dunia Ungkap 5 Sektor yang Bisa Menciptakan Banyak Lapangan Kerja
Penciptaan lapangan kerja menjadi tantangan besar bagi negara berkembang di tengah perubahan teknologi.
Sumber Berita: Kompas
Newsroom · 17 Okt 2026, 19.37 WIB
