Premi risiko utang Indonesia menunjukkan penurunan dalam sepekan terakhir. Meski menjadi sinyal membaiknya persepsi investor, tren ini belum cukup untuk memastikan fundamental ekonomi Indonesia ikut menguat. Kebutuhan pembiayaan negara dan tekanan eksternal masih menjadi tantangan. Berdasarkan data Bloomberg, credit default swap (CDS) Indonesia tenor 5 tahun berada di level 92,14 basis poin (bps) pada Rabu (14/10/2026), naik 0,17 bps dibanding posisi sepekan sebelumnya sebesar 91,97 bps. Namun, dibanding posisi Senin (5/10/2026) sebesar 94,77 bps, CDS tenor 5 tahun masih turun 2,63 bps. CDS Indonesia tenor 10 tahun tercatat 141,79 bps pada Rabu, naik 0,29 bps dibanding sepekan sebelumnya sebesar 141,499 bps. Angka itu masih lebih rendah 2,54 bps dibanding posisi 5 Oktober sebesar 144,33 bps. Rizal mengatakan penurunan CDS kemungkinan dipengaruhi meredanya tekanan risiko global, penyesuaian portofolio investor, serta ekspektasi terhadap stabilitas fiskal domestik. Namun, yield obligasi global yang tinggi, kebutuhan pembiayaan APBN, dan beban bunga utang masih menjadi sumber kerentanan. Rupiah ditutup di level Rp 17.903 per dolar AS pada Rabu, melemah tipis 0,02%. Rizal menjelaskan CDS mencerminkan persepsi pasar terhadap risiko gagal bayar negara, sedangkan rupiah lebih sensitif terhadap likuiditas dolar AS, arus modal, dan selisih imbal hasil aset domestik dengan aset global. Karena itu, membaiknya risiko kredit belum otomatis memperkuat nilai tukar. Arah premi risiko Indonesia ke depan bergantung pada suku bunga global, stabilitas rupiah, serta konsistensi kebijakan fiskal. Jika tekanan eksternal mereda dan disiplin fiskal terjaga, CDS berpeluang lebih rendah; gejolak global dan tekanan pembiayaan negara dapat membatasi penurunan. Rizal memperkirakan CDS tenor 5 tahun berada di kisaran 85–100 bps hingga akhir 2026, sedangkan tenor 10 tahun diproyeksikan pada rentang 125–145 bps.