Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,02% atau 3 poin ke level Rp17.903 per dolar AS pada perdagangan Rabu (14/10/2026). Depresiasi ini memutus momentum penguatan rupiah dalam dua hari perdagangan sebelumnya. Di saat yang sama, indeks dolar AS menguat 0,02 poin ke 102,19. Laporan Trading Economics menyebut bahwa Bank Indonesia terus memberikan dukungan stabilitas nilai tukar melalui intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan Non-Deliverable Forward (NDF) luar negeri. “Namun, sentimen secara keseluruhan masih rentan karena dolar AS tetap kuat secara luas menjelang rilis data inflasi penting AS,” tulis laporan tersebut, Rabu (14/10/2026). Di sisi lain, IMF memperingatkan bahwa konflik geopolitik dan gangguan pasokan energi akan menimbulkan risiko bagi negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia. Kendati demikian, IMF menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk 2026 menjadi 5,1% dari sebelumnya 5,0%. Proyeksi tersebut mempertimbangkan langkah-langkah pemerintah untuk mendukung daya beli rumah tangga serta perkiraan percepatan belanja pemerintah menjelang akhir tahun. “Sementara itu, volatilitas pasar masih berlanjut menjelang tinjauan MSCI bulan November terhadap pasar saham Indonesia, di tengah kondisi pendanaan global yang lebih ketat yang terus membuat rupiah rentan terhadap perubahan arus modal asing,” tulis laporan. Sementara itu, Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menilai gerak rupiah ke depan masih tertekan oleh konflik geopolitik. Dia memperkirakan rupiah akan melanjutkan pelemahan pada perdagangan Kamis (15/10/2026) besok. “Untuk perdagangan besok mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.900 sampai Rp17.950 per dolar AS,” kata Ibrahim. Sementara itu, untuk perdagangan pekan ini Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak di rentang level Rp17.780 hingga Rp18.060 per dolar AS.