Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot tajam sejam sebelum penutupan perdagangan Kamis (15/10/2026). Indeks turun 127,703 poin atau 2,15 persen ke level 5.815,321. Berdasarkan data perdagangan BEI, IHSG dibuka pada area 5.917,130 dan sempat menyentuh angka tertinggi 5.917,699. Tekanan jual yang meningkat membuat indeks merosot hingga menyentuh level terendah 5.804,210. Sebanyak 634 saham melemah, 77 saham menguat, dan 77 saham lainnya stagnan. Aktivitas perdagangan mencapai 17,397 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 7,259 triliun. Frekuensi transaksi menyentuh 906.214 kali. Koreksi serupa melanda pasar saham Asia. Kekhawatiran terhadap inflasi Amerika Serikat (AS) yang kembali meningkat membuat investor mencermati peluang penurunan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed). BRI Danareksa Sekuritas menyoroti inflasi AS pada September yang meningkat menjadi 3,7 persen, lebih tinggi dari ekspektasi pasar. Kondisi ini memperkuat kekhawatiran bahwa tekanan inflasi masih persisten sehingga membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter The Fed. Ekspektasi suku bunga yang bertahan tinggi dinilai menekan pasar saham karena meningkatkan biaya pendanaan dan membuat aset berisiko kurang menarik bagi investor. Tekanan tercermin pada sejumlah indeks saham utama Asia: Nikkei 225 Jepang melemah 5,24 persen, Shanghai Composite China turun 1,98 persen, dan Hang Seng Hong Kong terkoreksi 1,52 persen.