JAKARTA, investor.id - Bank Indonesia (BI) angkat bicara tentang pelemahan nilai tukar rupiah (IDR) yang hari ini sudah mendekati Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi ini terjadi karena tekanan perekonomian AS dan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve sehingga berujung pada pelemahan rupiah. Berdasarkan data Bloomberg pada Kamis (15/10/2026) pukul 09.05 WIB di pasar spot exchange, rupiah dibuka melemah 45 poin (0,25%) ke level Rp17.948 per dolar AS. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan rilis data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan dan meningkat dari periode sebelumnya mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga AS yang lebih agresif oleh Federal Reserve. Selain itu, ketidakpastian penyelesaian konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak tetap tinggi di atas US$105 per barel dan meningkatkan risiko fiskal ke depan. Indeks dolar AS sempat meningkat tajam ke level tertinggi sejak Mei 2025, dan yield US Treasury tenor dua tahun sempat naik 12 basis poin ke level 4,9%. Erwin mengatakan memburuknya sentimen risk-off mendorong penguatan dolar AS serta tekanan arus keluar dana dari portofolio aset negara emerging markets di tengah kenaikan yield obligasi. Meski melemah, ia menilai pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan mata uang kawasan, dengan pelemahan terbatas secara quarter-to-date sebesar 0,17%. Cadangan devisa tercatat terjaga di level US$146,3 miliar pada akhir September 2026. Erwin memastikan bank sentral terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai fundamentalnya. Intervensi dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder. Bank Indonesia juga mengelola struktur suku bunga di pasar uang dengan menjaga kecukupan likuiditas. Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi serta pelaku pasar terus dilakukan secara intensif.
BI: Inflasi AS hingga Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu Rupiah Dekati Rp 18.000
Bank Indonesia mengaitkan pelemahan rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS dengan inflasi AS yang lebih tinggi, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, dan ketidakpastian konflik Timur Tengah. BI menyatakan tetap melakukan intervensi dan menjaga likuiditas pasar.

Analisis Dampak Berita
Masuk untuk meminta analisis dampak berita ini.
MasukKomentar (0)
Masuk untuk memberikan komentar.
Baca juga
0291.000 Lowongan Kerja Luar Negeri Tersedia, Baru 25 Persen Terisi
JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) mencatat terdapat 291.000 lowongan kerja luar negeri yang telah terverifikasi sepanjang 2026.
Sumber Berita: Kompas
Newsroom · 15 Okt 2026, 21.02 WIB
0Kejar Penerimaan, Setoran Pajak Dipantau Tiap Pekan
JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Jenderal Pajak (Dirjen) Kementerian Keuangan Bimo Wijayanto mengatakan, pemerintah akan memantau perkembangan penerimaan negara setiap pekan untuk menjaga kesehatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Sumber Berita: Kompas
Newsroom · 15 Okt 2026, 21.02 WIB
0BSI Bidik Gen Z untuk Dongkrak Pasar Produk Halal Lokal
JAKARTA, KOMPAS.com - PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) membidik generasi Z untuk memperkuat pasar produk halal lokal sekaligus mendorong merek Indonesia menembus pasar global.
Sumber Berita: Kompas
Newsroom · 15 Okt 2026, 21.02 WIB
