Bisnis.com, JAKARTA — Pasar emas terus menghadapi tekanan signifikan akibat inflasi yang persisten, kenaikan suku bunga, dan imbal hasil obligasi yang lebih tinggi. Namun, logam mulia ini menunjukkan ketahanan luar biasa dengan mencatatkan kenaikan solid pada akhir kuartal ketiga, bahkan saat imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) melonjak ke level tertinggi dalam beberapa dekade. Analis pasar di Invesco mengatakan faktor-faktor yang saling bertentangan ini diperkirakan akan terus menjadi penggerak utama harga emas selama tiga bulan terakhir tahun ini. Dalam laporan prospek kuartalan terbaru mereka, Invesco menyatakan bahwa meskipun imbal hasil obligasi yang lebih tinggi dapat terus menekan harga emas pada kuartal IV/2026, permintaan struktural dari bank sentral dan minat investor yang kembali tumbuh terhadap produk investasi berbasis emas diharapkan terus memberikan dukungan jangka panjang. Para analis mencatat bahwa emas menutup bulan September di harga US$4.157 per ons, mencerminkan kenaikan sebesar 3,7% selama kuartal III/2026. Kinerja positif ini terjadi di tengah aksi jual tajam di pasar obligasi global yang mendorong imbal hasil Treasury AS tenor panjang ke level tertinggi dalam lebih dari dua dekade. Para analis menyoroti bahwa imbal hasil Treasury tenor 10 tahun berakhir di angka 5,28% pada September 2026, sementara imbal hasil tenor 30 tahun mencapai 5,63%, yang merupakan level penutupan tertinggi sejak 2002. Para analis menjelaskan bahwa imbal hasil obligasi yang lebih tinggi, khususnya kenaikan imbal hasil riil, meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) dalam memegang aset yang tidak menghasilkan imbal hasil (non-yielding assets) seperti emas. Namun, mereka mencatat bahwa hubungan historis antara emas dan suku bunga riil telah melemah secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. "Hubungan historis antara emas dan imbal hasil riil telah jauh lebih lemah sejak 2022, ketika pembekuan cadangan devisa Rusia mendorong bank sentral untuk membeli emas tanpa mempedulikan harganya," ujar para analis tersebut, melansir Kitco, Rabu (14/10/2026). Ke depan, para analis menyatakan bahwa inflasi yang persisten tetap menjadi salah satu risiko jangka pendek paling signifikan bagi emas, terutama karena pertumbuhan ekonomi terus menunjukkan ketahanan. Laporan tersebut mencatat bahwa Federal Reserve menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September, sehingga kisaran target suku bunga menjadi antara 3,75% dan 4,00%. Proyeksi terbaru bank sentral juga mengisyaratkan setidaknya satu kenaikan suku bunga tambahan sebelum akhir tahun. Namun, Invesco menyatakan bahwa data inflasi pengeluaran konsumsi pribadi yang lebih rendah dari perkiraan pada akhir September telah menurunkan ekspektasi akan adanya kenaikan suku bunga pada Oktober 2026. Saat ini, menurut CME FedWatch Tool, pasar hanya melihat peluang sebesar 21% untuk kenaikan suku bunga pada akhir bulan ini. Federal Reserve diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober, sementara para pembuat kebijakan menunggu data ekonomi tambahan sebelum mempertimbangkan kenaikan berikutnya pada Desember. Para analis mengatakan bahwa inflasi yang persisten akan memaksa Federal Reserve untuk mempertahankan sikap kebijakan pengetatan. Sementara itu, Invesco mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat semakin berkontribusi pada kenaikan imbal hasil obligasi, yang menambah tantangan bagi investor emas. Para analis juga menyoroti kekhawatiran yang meningkat mengenai pinjaman pemerintah AS, dengan utang nasional yang melampaui angka US$40 triliun selama kuartal ketiga. Mereka berpendapat bahwa investor mungkin akan semakin menuntut kompensasi tambahan untuk memegang utang pemerintah berjangka waktu lebih panjang seiring meningkatnya risiko fiskal, yang mendorong imbal hasil obligasi ke tingkat yang lebih tinggi. Terlepas dari tantangan-tantangan tersebut, Invesco menyatakan bahwa fundamental investasi emas yang mendasarinya tetap kokoh, didukung oleh minat baru terhadap produk investasi yang didukung oleh emas fisik.