Pergerakan nilai tukar rupiah di pasar spot dan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) bergerak berlawanan arah pada Rabu (14/10/2026). Melansir data Bloomberg, rupiah ditutup melemah tipis 0,02% secara harian ke level Rp 17.903 per dolar AS, dari posisi penutupan sebelumnya Rp 17.900. Berdasarkan data BI, kurs Jisdor berada di level Rp 17.898 per dolar AS, menguat 0,18% dibanding posisi sehari sebelumnya Rp 17.930. Pengamat mata uang, komoditas, dan pasar keuangan Ibrahim Assuaibi mengatakan pergerakan rupiah dipengaruhi sentimen global dan domestik. Dari sisi domestik, ia menyoroti revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Dana Moneter Internasional (IMF). Dalam laporan Oktober 2026, IMF menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 5,1%, dari 5% dalam laporan Juli 2026. Ibrahim menyebut IMF menyoroti geopolitik dan teknologi sebagai dua kekuatan transformatif yang membentuk kembali ekonomi global. Dampak terhadap setiap negara berbeda, bergantung pada kedekatannya dengan wilayah konflik dan sensitivitas terhadap perubahan harga komoditas, serta kemampuan memanfaatkan perkembangan kecerdasan buatan (AI). Pelaku pasar juga menantikan data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS untuk September. Jika inflasi AS melampaui ekspektasi, pasar dapat memperhitungkan suku bunga bertahan tinggi lebih lama. Kondisi tersebut berpotensi menopang dolar AS dan membatasi penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak pada kisaran Rp 17.900–Rp 17.950 per dolar AS pada Kamis (15/10/2026).