Rupiah ditutup menguat 0,07% atau 13 poin ke Rp17.900 per dolar AS pada Selasa, 13 Oktober 2026. Penguatan tersebut terbatas ketika indeks dolar AS (DXY) naik 0,27% ke 102,30. Laporan Trading Economics menyebut indeks dolar berada dekat level tertinggi dalam 18 bulan terakhir dan pelaku pasar menunggu data inflasi Amerika Serikat. Laporan yang dikutip artikel menyebut risiko geopolitik dan gangguan pasokan energi sebagai tantangan bagi negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia. Tekanan harga pangan domestik berpotensi menjaga inflasi tetap tinggi hingga akhir tahun. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menegaskan independensi bank sentral dalam menetapkan suku bunga, meski koordinasi dengan pemerintah lebih erat. Cadangan devisa relatif stabil pada September dan bertahan dekat level tertinggi dalam lima bulan. Namun, defisit transaksi berjalan dan kondisi pendanaan global yang lebih ketat membuat rupiah rentan terhadap perubahan arus modal asing. Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah pada Rabu, 14 Oktober, melemah ke rentang Rp17.900–Rp17.950 per dolar AS. Untuk pekan tersebut, ia memperkirakan pergerakan pada rentang Rp17.780–Rp18.060. Dalam pembaruan pukul 09.05 WIB, data Doo Financial Futures menunjukkan rupiah terkoreksi 12 poin atau 0,07% ke Rp17.912 per dolar AS.