Harga minyak dunia turun lebih dari 1 dollar AS per barrel pada perdagangan awal Asia, Kamis (15/10/2026), seiring investor mempertimbangkan risiko gangguan pasokan akibat serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz dan upaya Amerika Serikat (AS) menekan biaya pengiriman minyak. Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent turun 1,39 dollar AS atau 1,31 persen menjadi 104,67 dollar AS per barrel pada pukul 08.16 WIB. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 1,02 dollar AS atau 1,07 persen menjadi 94,07 dollar AS per barrel, berbalik melemah setelah mencatat kenaikan pada perdagangan sebelumnya. Pada perdagangan Rabu (14/10/2026), harga WTI sempat mencapai level tertinggi dalam tiga pekan setelah kelompok Houthi menyerang kantor pusat Saudi Aramco. Iran menyatakan akan menerapkan taktik baru untuk menargetkan kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz dan menjaga harga minyak tetap tinggi. Pejabat maritim pada Rabu melaporkan sebuah kapal kontainer dan kapal pengangkut curah kering tenggelam di dekat Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir setelah terkena proyektil dalam dua insiden terpisah. Serangan di sekitar jalur pelayaran itu meningkat dalam 10 hari terakhir. Iran menyatakan peningkatan serangan merupakan respons terhadap blokade AS atas pelabuhan-pelabuhannya serta pengetatan sanksi bulan lalu. Pemerintahan Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan pelonggaran sanksi terhadap kapal-kapal yang tergabung dalam shadow fleet atau armada bayangan, yang digunakan mengangkut minyak mentah dan produk minyak dari sejumlah negara, termasuk Rusia, Iran, dan Venezuela. Pembahasan berfokus pada kemungkinan mengizinkan pengangkutan minyak secara legal menggunakan kapal yang sebelumnya terkena sanksi, untuk menekan biaya pengiriman yang meningkat akibat gangguan pelayaran selama perang dengan Iran. Peningkatan produksi minyak dari Rusia dan Timur Tengah turut membatasi kenaikan harga. Badan Energi Internasional melaporkan produksi minyak mentah Rusia meningkat 65.000 barrel per hari pada September menjadi 8,43 juta barrel per hari. Produksi itu masih 870.000 barrel per hari lebih rendah dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.