Aksi gadai saham PT Pradiksi Gunatama Tbk. (PGUN) dan PT Jhonlin Agro Raya Tbk. (JARR) oleh pengendalinya diperkirakan dapat dilunasi sekitar enam tahun kemudian. Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nurkholis Syafruddin mengatakan akuisisi saham PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) oleh kelompok usaha Jhonlin menjadi perhatian karena implikasinya terhadap risiko kredit PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI). Menurut analisis yang dikutip Bisnis.com, BYAN rata-rata membagikan dividen US$960 juta per tahun untuk tahun buku 2021–2025, termasuk US$500 juta untuk tahun buku 2025. Berdasarkan porsi kepemilikan, bagian dividen Jhonlin secara historis berpotensi sekitar US$290 juta per tahun. Nilai tersebut setara imbal hasil sekitar 20% terhadap asumsi fasilitas pembiayaan Rp26,1 triliun atau sekitar US$1,45 miliar, yang seluruhnya dibiayai utang, dibandingkan asumsi biaya pinjaman 8%. Dengan cicilan tujuh hingga delapan tahun, rata-rata dividen BYAN dinilai berpotensi menopang pembayaran. Beban bunga tahunan sekitar US$116 juta diperkirakan dapat ditutup 2,5 kali oleh rata-rata dividen lima tahun dan 1,3 kali oleh dividen tahun buku 2025. Cicilan tahunan US$252–US$279 juta dapat ditutup sekitar 1,04–1,15 kali, sehingga pinjaman berpotensi lunas dalam sekitar 6,6 tahun. Namun, Mirae Asset menilai kemampuan pembayaran masih bergantung pada sejumlah asumsi. Jika menggunakan rata-rata dividen BYAN periode 2023–2025 sebesar US$667 juta per tahun, rasio Debt Service Coverage Ratio diperkirakan turun menjadi 0,72–0,80 kali. BYAN perlu membagikan dividen setidaknya sekitar US$830 juta per tahun agar rasio tersebut di atas satu kali. Risiko lainnya mencakup ketidakpastian kebijakan dividen BYAN dan fakta bahwa Jhonlin tidak memiliki kendali penuh atas keputusan pembagian dividen. Keluarga Low masih memegang sekitar 32% saham BYAN. Risiko terkait rencana kerja dan anggaran biaya, kewajiban Domestic Market Obligation, kondisi force majeure, arus kas, dan siklus batu bara juga dapat memengaruhi pembayaran. Mirae Asset tetap berpandangan bearish terhadap BMRI dengan mencatat tantangan fundamental, termasuk loan-to-deposit ratio 94,4%, rasio kecukupan modal bank-only 17,5%, kenaikan cost of credit, dan loan loss reserve sekitar 2,4%.