JAKARTA, KOMPAS.com – Pemerintah membidik hilirisasi industri agro sebagai peluang untuk memperbesar nilai tambah komoditas pertanian dan perkebunan, sekaligus memperluas pasar ekspor, penyerapan tenaga kerja, dan penerimaan devisa nasional. Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Yulia Astuti menilai, hilirisasi industri agro menjadi salah satu peluang untuk memperkuat ekspor nasional melalui peningkatan nilai tambah komoditas pertanian dan perkebunan. “Pengolahan bahan baku menjadi produk jadi atau setengah jadi di dalam negeri juga berpotensi memperluas penyerapan tenaga kerja,” kata Yulia dalam keterangannya, Kamis (15/10/2026). Adapun nilai ekspor Indonesia mencapai 25,30 miliar dollar AS atau setara Rp 453,8 triliun pada April 2026, dengan asumsi kurs Rp 17.938 per dollar AS. Capaian tersebut tumbuh 12,32 persen dibandingkan Maret 2026 dan meningkat 21,98 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Di tengah pertumbuhan tersebut, Kementerian Perdagangan mencatat, pertumbuhan ekspor pada April 2026 ditopang kenaikan ekspor nonmigas sebesar 13,66 persen. Sejumlah komoditas mencatatkan peningkatan signifikan, termasuk kelompok kopi, teh, dan rempah-rempah yang naik 54,44 persen, serta tembakau dan rokok yang tumbuh 43,49 persen. Secara kumulatif, ekspor nonmigas Indonesia mencapai 87,74 miliar dollar AS sepanjang Januari-April 2026, meningkat 6,28 persen. Namun, kinerja ekspor sektor pertanian secara kumulatif justru mengalami penurunan sebesar 26,27 persen. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya memperkuat industri pengolahan komoditas agro agar produk Indonesia memiliki nilai tambah dan daya saing lebih tinggi di pasar internasional. Dia mengatakan hilirisasi dapat menjadi salah satu strategi untuk mendorong transformasi ekonomi nasional, termasuk dalam mendukung target pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2028. “Peluang investasi hilirisasi untuk pertumbuhan ekonomi itu tentunya akan mendorong terjadinya transformasi ekonomi kita,” ujar Yulia. Dia menambahkan, investasi dan kemudahan fasilitasi penanaman modal menjadi faktor penting dalam mendorong hilirisasi industri agro secara berkelanjutan. Dia bilang, pemerintah terus berupaya menyediakan fasilitas pendukung sekaligus membuka ruang perbaikan kebijakan. Sementara itu, CEO Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Anton Sulaiman, mengatakan ketersediaan bahan baku dan bahan penolong masih menjadi tantangan bagi pengembangan industri agro berorientasi ekspor. “Ini harus jadi perhatian, karena kalau hulunya ini tidak bisa diselesaikan, maka keberhasilan pengembangannya akan sulit,” ujar Anton.