JAKARTA, investor.id – Bank Indonesia (BI) menilai pengembangan pasar sukuk di dalam negeri masih bisa dioptimalkan. Gubernur BI Destry Damayanti menyebut porsi instrumen syariah dalam pembiayaan pemerintah masih relatif kecil dibandingkan total surat berharga negara (SBN), padahal produk keuangan syariah diminati investor asing. Destry mengungkapkan, investor asing memandang produk keuangan syariah sebagai instrumen yang berkelanjutan. Karena itu, banyak investor mulai bergeser ke produk tersebut. “Mereka (investor asing) melihat produk ini produk yang sustain. Dan ini yang membuat memang banyak dari investor juga bergeser, dan biasanya produk keuangan syariah itu relatif stabil karena dia punya underlying-nya,” ucap Destry dalam Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 di Jakarta International Convention Center pada Rabu (14/10/2026). Melihat tingginya permintaan, Destry mengajak seluruh pemangku kepentingan merumuskan kebijakan agar produk keuangan syariah semakin bervariasi. Menurut dia, BI melihat potensi pengembangan produk keuangan syariah, dengan sukuk sebagai salah satu produk yang paling diminati. Mengutip data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, outstanding SBSN mencapai Rp1.818,56 triliun per 30 September 2026. Angka ini meliputi SBSN yang dapat diperdagangkan (tradable) sebesar Rp1.714,06 triliun dan SBSN yang tidak dapat diperdagangkan (non-tradable) sebesar Rp104,49 triliun. Berdasarkan data tersebut maka outstanding SBSN memberikan kontribusi 20,29% dari total outstanding Surat Berharga Negara (SBN) pemerintah yang mencapai Rp8.962,39 triliun. Dengan kata lain, instrumen surat utang konvensional masih lebih besar daripada portofolio utang pemerintah. “Kalau dibandingkan dengan total bonds yang diterbitkan oleh pemerintah, porsinya relatif masih kecil, sehingga masih banyak ruang yang terbuka,” kata Destry. Destry memandang peran instrumen syariah dalam pembiayaan pemerintah masih terbatas. Kondisi tersebut menunjukkan adanya ruang untuk memperluas pemanfaatan sukuk agar perannya di pasar keuangan dalam negeri semakin meningkat. Salah satu upaya pengembangan pasar keuangan syariah adalah penerbitan sukuk global. Pemerintah juga telah menerbitkan green sukuk sejak 2018, yakni SBSN yang diterbitkan untuk mendanai proyek-proyek yang bermanfaat bagi lingkungan dan mendukung penanggulangan dampak perubahan iklim. Adapun akumulasi penerbitan green sukuk Indonesia di pasar global telah mencapai US$7,7 miliar, sedangkan di pasar domestik mencapai Rp108,9 triliun.
Destry: Investor Asing Minati Sukuk, Perlu Dioptimalkan
Bank Indonesia menilai pasar sukuk domestik masih dapat dikembangkan karena porsinya relatif kecil dibanding total SBN, sementara investor asing memandang produk keuangan syariah sebagai instrumen berkelanjutan. Outstanding SBSN tercatat Rp1.818,56 triliun atau 20,29% dari total SBN per 30 September 2026.

Analisis Dampak Berita
Masuk untuk meminta analisis dampak berita ini.
MasukKomentar (0)
Masuk untuk memberikan komentar.
Baca juga
0Cara Cek Bansos KTP Oktober 2026, Cukup Masukkan NIK untuk Lihat Penerima
Pengecekan status penerima bansos Oktober 2026 dapat dilakukan secara daring menggunakan NIK KTP melalui layanan resmi Kementerian Sosial. Data yang ditampilkan dapat mencakup status kepesertaan, jenis bantuan, dan periode penyaluran.
Sumber Berita: Kompas
Newsroom · 15 Okt 2026, 23.27 WIB
0Kopdes Merah Putih Jadi Penyalur Gaji PNS, Ekonom Soroti Keamanan Sistem
Ekonom Rahma Gafmi menyoroti rencana Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih menjadi penyalur gaji dan pensiun PNS. Ia meminta pemerintah memperjelas tujuan kebijakan serta memastikan infrastruktur, tata kelola, dan keamanan sistemnya.
Sumber Berita: Kompas
Newsroom · 15 Okt 2026, 23.27 WIB
0Cerita Bos Kawan Lama Pilih AZKO dan Tinggalkan ACE Hardware
CEO ruparupa sekaligus Direktur PT Aspirasi Hidup Indonesia Teresa Wibowo menceritakan keputusan Kawan Lama Group mengakhiri kerja sama waralaba ACE Hardware dan mengembangkan merek sendiri, AZKO. Pertimbangannya mencakup persyaratan kerja sama dan strategi jangka panjang perusahaan.
Sumber Berita: Kompas
Newsroom · 15 Okt 2026, 23.27 WIB
